'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Waktu Puasa 17 Jam Di Jepang, Tidak Menyurutkan Semangat Para Alumni SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban Menjalani Puasa
21 Mei 2018 11:25 WIB | dibaca 2377
Foto para alumni SMK Pelayan Muhammadiyah Tuban di Jepang (kirno/tuban.aisyiyah.or.id)
 
TUBAN.AISYIYAH.or.id. Menjalankan ibadah puasa di negara minoritas muslim tentu berbeda. Sebagai seorang muslim, hidup di negeri minoritas memang penuh tantangan. Salah satunya tantangan berpuasa di bulan suci Ramadhan. 
 
Bulan penuh berkah ini jatuh tepat di musim panas. Saat matahari sedang lama-lamanya bertengger di angkasa. Saat panas menyengat dan kelembapan sedang ganas-ganasnya. Pukul 3 pagi sudah masuki waktu subuh dan fajar menyingsing pukul 4:30 pagi. Matahari terbenam di sebelah barat pukul 7 malam.
 
Itulah yang dialami oleh Sukirno dan kawan-kawan, alumni SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban  yang saat ini sedang menjajadi tenaga ahli dunia perikanan di Jepang.
 
Biar pun merasa jauh dari rumah, Kirno dan kawan-kawan merasa Ramadan di Jepang lebih menantang dan memberikan pengalaman tersendiri. Mengingat disana mereka berbaur dengan komunitas masyarakat international yang memiliki budaya berbeda dan agama berbeda
 
Dari segi fisik, para alumni ini SMK Pelayaran Muhammadiyah ini harus menyiapkan diri lebih ekstra selama Ramadan. Mengingat durasi berpuasa di Jepang sedikit lebih lama jika dibandingkan dengan di Indonesia. Sebagaiman yang disampaikan oleh Sukirno kepada redaksi www.tuban.aisyiyah.or.id pada Senin (21/5/2018)
 
“Berpuasa kali ini bertepatan dengan musim panas, jadi durasi berpuasanya lebih lama berkisar 16-17 jam seharinya,” kata Sukirno yang sudah tiga kali menjalankan ibadah puasa di Jepang bersama teman-teman seangkatannya.
 
"Hal ini tidak memyurutkan niat kami untuk menyiapkan segalanya terutama fisik demi menjalankan kewajiban puasa" tutur Kirno 
 
Lanjut dia "Rasanya senang kami masih bisa diberi kesempatan Allah untuk menjalakan ibadah puasa walau di nergi Sakura, di sini waktu berbuknya pukul 19.10. Alhmdhulilah kami jalani penuh iman dan taqwa insha Allah, semoga di beri kelancaran sampai tuntas"
 
Tentang kegiatan shalat traweh, dia mengatakan bahwa, dilaksanakan bersama teman-teman di tempat tinggalnya dikarenakan jarak menuju ke masjid jauh, menempuh perjalanan sekitar 8 jam
 
"Kalau traweh dilaksanakn bareng teman-teman di rempat tinggal karena jarak masjidnya jauh, adanya di Fukuoka dan Kagoshima, perjalanan ke Fukuoka sekitar 8 jam, sedangkan ke Kagoshima sekitar 10 jam" tuturnya
 
Kirno juga meceritakan bahwa, orang Jepang sangat menjunjung tinggi toleransi
 
"Alhmdhulilah orang Jepang sangat menjunjung tinggi toleransi,  waktu pertama kami puasa mereka kaget, kenapa tidak makan dan minum? Mamun setelah kami jelaskan mereka baru paham" pungkasnya
 
Waktu puasa yang lebih panjang tidak menyurutkan niat lurus para alumni SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban di Jepang untuk tetap menjalankan puasa Ramadhan tahun ini. Mungkin ini jadi pengalaman baru dan berbeda yang tidak bisa dirasakan setelah kembali ke Indonesia.
 
Oleh karena itu, mari kita semangat untuk menjalani Bulan Ramadhan kali ini dengan sebaik-baiknya ibadah. Semoga kita diberi kekuatan dan jalan untuk tetap bisa beribadah Ramadhan di manapun berada. Aamiin!
 
Iwan Abdul Ghani
Shared Post: