'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
MIM 1 Karangagung. Sekolah Penuh Prestasi di Balik Kampung Nelayan
07 Februari 2018 14:07 WIB | dibaca 968
Foto Pertandingan Futsal TK ABA Panyuran vs TK PKK Palang (Iwan Abdul Gani)
 
Tulisan ini berisi catatan dari apa yang saya temukan di lapangan, karena sifatnya catatan harian jadi gaya bahasanya tidak seperti menulis berita (news). Tujuannya adalah memberi informasi dengan bahasa yang sederhana. Karena format berita, sifatnya tekstual.
 
Semua ini karna rasa, yaitu rasa memiliki, biar keren, saya pinjam istilah Ayahanda Nurul Yakin "Sense Of Belonging". Bahasa ini terucap ketika beliau memberi sambutan dalam acara pelantikan Forum Guru Muhammadiyah (FGM).
 
Di hadapan para pendidik beliau menyampaikan bahwa, kita harus punya rasa memeiliki terhadap Muhammadiyah.
 
Hari Rabu 7 Februari 2018, menjemput putra pertama saya yang sedang mengikuti lomba antar TK dan RA sekecamatan Palang yang diadakan oleh MIM 1 Karangagung dalam rangka open house yang VI. 
 
Begitu memasuki area sekolah terdapat banyak orang, nampaknya mereka sedang menyaksikan pertandingan Futsal antar  TK ABA Panyuran bertemu dengan TK PKK Palang, serta TK ABA Leran Wetan bertemu dengan TK ABA Karangagung (tuan rumah).
 
Ternyata meriah, penontonnya didominasi kaum hawa yang terdiri dari para guru dan orang tua wali yang meberi semangat pada putranya yang sedang bertanding
 
  
Foto Pertandingan Futsal TK ABA Leran Wetan vs TK ABA Karangagung (Iwan Abdul Gani)
 
Di bagian timur ada lagi penonton yang teridir dari siswa-siswi MIM Karangangung, mereka lebih memilih tempat yang tinggi di lantai dua sekolah. Jadi ada penonton di tribun bawah dan tribun atas, bisa dibayangkan teriakan ibu-ibu dicampur teriakan anak-anak. 
 
Spanduk-spanduk sponsorpun banyak terpampang di pinggir lapangan maupun di dinding-dinding sekolah, semuanya dari makanan atau minuman dengan merk terkenal, salah satunya adalah minuman kebanggaan Muhammadiyah yaitu Suli5. Kenapa yang lain tidak disebutkan? Jawabnnya karena prinsip. Yaitu prinsip Sense of belonging.
 
Sepengetahuan saya, pihak sponsor tidak mudah diajak kerja sama dalam mensukseskan suatau acar, jika ada iven dan ada sponsor berarti panitia yang mengadakan acara tersebut  sudah dipercaya. Kepercayaan itu ada karena prsetasi, prestasi itu ada karena rasa memiliki
 
Sementara di sisi panggung terpampang banyak piala, ada piala untuk hadiah bagi pemenang perlombaan, dan ada pula piala milik MIM 1 Karangagung sendiri yang didapat karena persetasi diukir dari beberapa perlombaan.
 
Sayapun mengamati piala-piala tersebut, di situ ada yang tertulis Juara 1 Tapak suci, jauara 1 Futsal, juara 1 Smart Scout dan top score Futsal, dan masih banyak lagi piala yang terdapat di dalam kantor
 
Saat sedang memperhatikan piala, tiba-tiba dihampiri kepala sekolah MIM, As'ad, S.Pd. Sayapun menggunakan kesempatan ini untuk menggali informasi. 
 
Beliaupun bercerita tentang prestasi yang sudah diperoleh, dan prestasi ini skalanya bukan tingkat Palang atau tingkat kabupaten Tuban, namun sudah setingkat Kerasidenan Bojonegor. Hal ini perlu apresiasi. 
 
Sekolah ini sendiri secara geografis, terletak di tengah-tengah perkampungan nelayan. Di depannya terdapat plang Muhammadiyah dan jalan masuknya juga tampak biasa saja. Namun jika ditanya, kapan sekolah ini didirikan? Dari namanya saja kita bisa menebak bahwa sekolah ini sudah lama berdiri (MIM 1)
 
Berbicara kualitas, Muhammadiyah jangan ditanya. Saya ceritra sedikit tentang kualitas pendidikan Muhammadiyah di Indonesia bagian Timur. Di Nusa Tenggara Timur sendiri, sebelum universitas Nusa Cendana membuka fakultas perikanan, Muhammadiyah sudah membukanya, maka jangan kaget jika 70% mahasiswanya non Islam. Hala ini juga menepis tudingan bahwa Muhammadiyah itu Wahabi.
 
Jika ditelusuri para pejabat di Indonseia Timur yang non Islam, pasti ada yang pernah mengenyam pendidikan di Muhammadiyah. Salah satunya adalah mantan bupati Alor, namanya Smeon Palli, dia dengan bangganya mengatakan saat kampanye bahwa drinya adalah alumni Universitas Muhammadiyah Kupang
 
Penting apa tidak hal ini diinformasikan? Bagi saya pribadi ini penting, Mengapa? Karena saya bisa memberi informasi bermanfaat untuk orang lain, dan juga terbiasa menulis.
 
Kembali masalah Sens Of Belonging (rasa memiliki). Mengapa sekolah Muhammadiyah bisa berkembang dan bersaing dengan sekolah lain? Jawabannya karena rasa. Pun demikian sebaliknya.
 
Pertanyaan selanjutnya siapa yang harus memiliki rasa ini? Jawabannya kita semua, kita warga Muhammadiyah. Ketika Ayahanda Nurul Yakin berbicara tentang "Sense Of belonging," beliau tidak sedang bicara didepan ruang hampa, namun didepan Saya, Anda dan kita semua.
 
Apa maksudnya? Saya coba memahami dari prsepektif pribadi. Bahwa yang dimaksud adalah rasa memiliki terhadap Muhammadiyah, terhadap semua yang ada di Muhammadiyah. 
 
Bagaimana kita tahu bahwa rasa itu ada? Tentu dari tindakan, aksi nyata. Dan itu sudah ditunjukan dalam pendidikan salah satunya adalah MIM 1 Karangagung. Jika bukan karena sense of belonging, tidak akan bertahan lama sekolah tersebut. Apa lagi di Palang sendiri sudah berdiri sekolah-sekolah baru yang siap dalam segala hal untuk menjadi pesaing Muhammadiyah
 
Sampai di sini, saya berharap Anda sudah bisa membaca arah tulisan ini ujungnya bagaimana?
 
Adalah, menumbuhkan rasa memiliki dalam diri kita warga Muhammadiyah. Tidak akan maju Muhammadiyah Tuban pendidikannya jika hanya diserahkan kepada pihak sekolah, dan PDM melalui Dikdasmen, tapi ini milik kita, baik yang di palang sampai di ujung bagian barat Tuban (Bulu, Bancar) itu milik kita, kita semua punya kewajiban untuk membesarkannya.
 
Muhammadiyah Tidak menuntut kita harus menyerahkan 2,5 % pendapatakan kita seperti yang dicanangkan oleh menteri Agama, tentang zakat PNS yang menurut saya ini aneh. Mengapa aneh? Karena zakat itu ibadah, seperti yang diteriakkan oleh kaum liberal bahwa ibadah adalah rana privasi, jangan bawa-bawa syariat Islam dalam mengurus negara (kata mereka), namun mereka diam ketika ada wacana ini. Ingat, zakat itu syariat Islam
 
Pertanyannya apa yang harus kita lakukan? Jawabnnya banyak jalan jika kita mau. Kita manfaatkan potensi yang sudah ada di Muhammadiyah seperti pendidikan, rumah sakit, dan lain-lain,  caranya adalah mempromosikannya. Jika berada di Palang, ketemu orang tua yang ingin memasukkan anaknyana sekolah, kita arahkan mereka ke sekolah-sekolah Muhammadiyah.
 
Ada yang mengatakan, ah... sekolah Muhammadiyah dari dulu sampai sekarang begitu-begitu saja. Anggap pendapat seperti itu karena belum tahu, ataupun karena berangkat dari rasa belum memiliki. 
 
Ada banyak sekolah Muhammadiyah yang mengukir prestasi namun di sini saya ambil contoh di MIM 1 Karangagung. Selanjutnya bisa dicari tahu sendiri. Untuk tingkat SD bisa di MIM Ulum kalau yang di Kota, bisa ke MIM Panyuran, bisa ke MIM Cendoro dan masih banyak lagi.
 
Ada perumpamaan. Ada perusahaan A punya produk sabun mereknya unta, sedangkan perusahaan lain yang menjadi pesaingnya punya produk sabun mereknya tikus. Ketika memasarkan produk tersebut, perusahaan A memberi pengumuman lewat iklan bahwa sabun unta bisa mencuci sendiri. Itu namanya cerdas. 
 
Namun beda halnya ketika perusahaan A mengatakan bahwa sabun C bisa mencuci sendiri, itu namanya konyol. Mengapa? Karena dia tidak percaya dengan produknya sendiri.
 
Intinya, mari kita tanamkan rasa memiliki terhadap Muhammadiyah, terhadap lembaga yang ada di Muhammadiyah. Jika kita punya mengapa harus memilih tetangga sebelah?
Semoga bermanfaat
 
Tuban 7 Februari 2018
Catatan Harian (Iwan Abdul Gani)
 
 
Shared Post: