'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Mengenal 9 Vaksin Corona Yang Sedang Dikembangkan
24 Juni 2021 12:55 WIB | dibaca 110
 
TUBAN.AISYIYAH.OR.ID - Perusahaan farmasi ternama dari berbagai negara tengah melakukan pengembangan vaksin virus corona.
 
Vaksin diharapkan dapat memperbaiki kondisi, di mana pandemi telah berdampak pada berbagai sektor kehidupan.
 
Melansir nationalgeographic.com (8/10/2020), lebih dari 150 vaksin virus corona tengah berada dalam pengembangan di seluruh dunia.
 
Harapan tinggi muncul untuk membawanya ke pasar dalam waktu singkat untuk meredakan krisis global.
 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengoordinasikan upaya global untuk mengembangkan vaksin, dengan tujuan memberikan dua miliar dosis pada akhir 2021.
 
Biasanya, dibutuhkan waktu 10-15 tahun membawa vaksin ke pasar dan tercepat, vaksin glondongan, membutuhkan waktu empat tahun pada 1960-an.
 
Vaksin melalui proses uji klinis tiga tahap sebelum disetujui, di mana ini dapat menjadi proses yang panjang.
 
Bahkan setelah vaksin disetujui, vaksin menghadapi potensi hampatan dalam peningkatan produksi dan distribusi, yang termasuk memutuskan populasi mana yang harus mendapatkannya terlebih dahulu dan biayanya.
 
Prospek vaksin
Kandidat vaksin Covid-19 pada dasarnya bertujuan untuk menginstruksikan sistem kekebalan guna meningkatkan pertahanan terhadap virus corona.
 
Beberapa vaksin dikembangkan menggunakan virus corona dalam keadaan mati atau melemah, dan lainnya memakai bagian dari virus, baik protein atau fragmen.
 
Sementara beberapa di antaranya mentransfer protein virus ke virus lain yang kemungkinan tidak menyebabkan penyakit atau bahkan tidak mampu untuk itu.
 
Pada akhirnya, beberapa vaksin yang dikembangkan bergantung pada penyebaran materi genetik dari virus corona, sehingga sel-sel tubuh dapat membuat protein virus corona yang dibutuhkan untuk merangsang sistem kekebalan dalam waktu sementara.
 
Meskipun terlalu dini mengatakan kandidat mana yang pada akhirnya akan berhasil, berikut sekilas prospek yang telah mencapai fase tiga dan seterusnya.
 
1. Novavax
Perusahaan bioteknologi yang berbasis di Gaithersburg, Maryland mengembangkan vaksin yang dinamai NVX-CoV2373, dengan menggunakan lonjakan protein virus corona, bagian yang membantu virus menyerang sel tapi tidak dapat mereplikasi atau menyebabkan Covid-19.
 
Kandidat vaksinnya menggabungkan protein tersebut menjadi nanopartikel, yang dapat disuntikkan bersamaan dengan bahan pembantu senyawa yang menstimulasi sel kekebalan untuk menimbulkan respons imun, di mana pemberian vaksin dilakukan dalam dua dosis dengan jarak 21 hari.
 
Pada 2 September, sebuah studi tentang uji coba fase satu perusahaan, dipublikasikan di New England Journal of Medicine, menemukan bahwa vaksin aman dan menghasilkan antibodi virus corona pada tingkat lebih tinggi dibandingkan yang terlihat di antara orang sembuh dari Covid-19, serta vaksin merangsang sel T, bagian lain dari respons kekebalan manusia.
 
Pada 24 September, Novavax mengumumkan peluncuran uji coba fase tiga di Inggris yang akan mengevaluasi vaksin pada 10.000 orang, dengan dan tanpa kondisi yang mendasari.
 
Hampir 400 peserta juga akan divaksinasi flu musiman, sebagai bagian dari sub-studi yang akan membantu menentukan apakah aman untuk memberikan kedua vaksin kepada pasien pada waktu yang sama.
 
 
 
2. Johnson & Johnson
Perusahaan multinasional terbesar di dunia yang berbasis di New Jerset mengembangkan vaksin corona dengan nama JNJ-78436735.
 
Perusahaan yang berspesialisasi dalam produk perawatan kesehatan dan farmasi ini mengembangkan vaksin adenovector, yang memasukkan sepotong DNA dari SARS-CoV-2 ke dalam adenovirus penyebab flu biasa yang telah diubah secara genetik sehingga tak dapat bereplikasi dalam tubuh.
 
Vaksin dibuat berdasarkan teknologi yang digunakan Johnson & Johnson untuk mengembangkan vaksin Ebola dan kandidat vaksin untuk Zika dan HIV.
 
Pada Juli lalu, sebuah penelitian yang dipublikasikan di Nature menunjukkan vaksin memunculkan antibodi penawar pada monyet dan memberikan perlindungan dalam kisaran hampir lengkap hanya dengan satu dosis.
 
Pada 23 September, perusahaan mengumumkan peluncuran uji coba ensemble fase ketiga yang akan mengevaluasi keamanan vaksin pada hampir 60.000 orang dewasa dari berbagai negara.
 
3. Moderna Therapeutics
Perusahaan bioteknologi yang berbasis di Massachusetts, bekerja sama dengan National Institutes of Health mengembangkan vaksin corona dengan nama mRNA-1273.
 
Kandidat vaksin ini bergantung pada penyuntikan potongan materi genetik virus, dalam hal ini mRNA, ke dalam sel manusia.
 
Perusahaan membuat protein virus yang meniru virus corona, melatih sistem kekebalan untuk mengenali keberadaannya.
 
4. Pfizer
Salah satu perusahaan farmasi terbesar di dunia, yang berbasis di New York, bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech mengembangkan vaksin bernama BNT162b2.
 
Pfizer dan BioNTech juga mengembangkan vaksin mRNA berdasarkan upaya perusahaan Jerman sebelumnya untuk menggunakan teknologi tersebut dalam vaksin kanker eksperimental.
 
Pada 27 Juli, Pfizer dan BioNTech meluncurkan uji coba yang menggabungkan fase dua dan tiga dengan mendaftarkan populasi yang beragam di daerah dengan penularan SARS-CoV-2 yang signifikan.
 
Hal tersebut memperluas uji coba untuk menyertakan 44.000 orang di berbagai negara.
 
Proyek ini bertujuan mencari tinjauan regulasi sebelum akhir tahun, dan berharap dapat memasok 1,3 miliar dosis pada akhir 2021.
 
Hasil awal dari data fase satu dan dua menunjukkan vaksin tersebut menghasilkan antibodi dan respons sel-T yang spesifik untuk SARS-CoV-2.
 
 
5. Universitas Oxford
Universitas Inggris, bekerja sama dengan perusahaan biofarmasi AstraZeneca mengembangkan vaksin ChAdOx1 nCoV-19, dikenal sebagai vaksin vektor virus, disajikan ke sistem kekebalan.
 
Tim peneliti Oxford telah mentransfer protein SARS-CoV-2, yang membantu virus corona menyerang sel, menjadi versi adenovirus yang dilemahkan, yang biasanya menyebabkan flu biasa.
 
Saat adenovirus ini disuntikkan ke manusia, diharapkan lonjakan protein tersebut akan memicu respons imun.
 
 
6. Sinofarm
Perusahaan farmasi milik negara China, Sinofarm, bekerja sama dengan Institut Produk Biologi Wuhan mengembangkan vaksin SARS-CoV-2 yang tidak aktif, dan diharapkan dapat menjangkau publik pada akhir 2020.
 
Temuan awal dari dua uji coba acak, yang diterbitkan di JAMA , menunjukkan vaksin dapat memicu respons antibodi tanpa efek samping yang serius.
 
Studi ini tidak mengukur respons imun yang dimediasi oleh sel T.
 
Pada 29 September, Sinoparm mengajukan permohonan untuk persetujuan vaksin, yang dapat tiba sekitar Oktober.
 
Disebutkan, ratusan ribu warga sipil China telah divaksinasi di bawah persetujuan penggunaan darurat dari pemerintah.
 
Pada Juli, perusahaan menjadikan vaksin eksperimental pertama yang tersedia untuk warga sipil di luar sukarelawan klinis.
 
Perusahaan meluncurkan uji coba fase tiga pertamanya di antara 15.000 sukarelawan berusia 18-60 tahun tanpa kondisi dasar yang serius di Uni Emirat Arab.
 
7. Lembaga Penelitian Anak Murdoch
Lembaga penelitian kesehatan anak terbesar di Australia, bekerja sama dengan University of Melbourne menguji coba BRACE Bacillus Calmette-Guerin.
 
Selama hampir seratus tahun, vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) telah digunakan untuk mencegah tuberkulosis dengan memaparkan pasien pada dosis kecil bakteri hidup.
 
Telah muncul bukti selama bertahun-tahun bahwa vaksin dapat meningkatkan sistem kekebalan dan membantu tubuh melawan penyakit lain.
 
Para peneliti sedang menyelidiki apakah manfaat ini juga dapat meluas ke SARS-CoV-2, dan uji coba ini telah mencapai fase tiga di Australia.
 
Padahal per 12 April, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan tidak ada bukti vaksin BCG melindungi orang dari infeksi virus corona.
 
8. Cansino Biologics
Perusahaan biofarmasi China, Cansino mengembangkan vaksin Ad5-nCoV.
 
Cansino mengembangkan vaksin vektor virus, menggunakan versi adenovirus yang dilemahkan sebagai sarana untuk memasukkan protein lonjakan virus corona ke dalam tubuh.
 
Hasil uji coba fase dua yang diterbitkan The Lancet menunjukkan, vaksin mengasilkan tanggapan kekebalan yang signifikan di sebagian besar penerima setelah imunisasi tunggal dan tak ada reaksi merugikan yang serius.
 
Meskipun secara teknis perusahaan masih dalam tahap kedua uji coba, pada 25 Juni, CanSino menjadi perusahaan pertama yang menerima persetujuan terbatas untuk menggunakan vaksinnya pada manusia.
 
Pada 15 Agustus, perusahaan biofarmasi Rusia Petrovax mengumumkan telah meluncurkan uji klinis tahap ketiga Ad5-nCoV.
 
9. Pusat Epidemiolgi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya
Lembaga penelitian Rusia, bermitra dengan Dana Investasi Langsung Rusia yang dikelola negara mengembangkan vaksin Sputnik V.
 
Gamaleya telah mengembangkan vaksin vektor virus yang juga menggunakan versi lemah dari adenovirus penyebab flu biasa untuk memperkenalkan protein lonjakan SARS-CoV-2 ke tubuh.
 
Vaksin menggunakan dua jenis adenovirus dan butuh suntikan kedua setelah 21 hari untuk meningkatkan respons kekebalan.
 
Rusia belum mempublikasikan apa pun dari uji klinis, tapi mengklaim telah menyelesaikan tahap satu dan dua.
 
Para peneliti juga mengatakan, vaksin menghasilkan antibodi yang kuat dan respons imun seluler.
 
Meskipun kurang bukti yang dipublikasikan, Rusia telah menghapus vaksin Sputnik V untuk digunakan secara luas dan mengklaim sebagai vaksin Covid-19 terdaftar pertama di pasar.
 
Rusia melaporkan akan memulai uji klinis fase tiga pada 12 Agustus 2020, di mana bagaimana pun WHO mendaftar vaksin Sputnik V sebagai tahap pertama dari uji klinis.
 
Editor: Iwan Abdul Gani
Shared Post: