'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
KH. Masduki NS "Gaya Hidup Di Luar Islam Itu Relatif, Rapuh, Uglak-Aglik
30 Maret 2018 14:13 WIB | dibaca 679
Foto KH. Masduki. NS saat menyampaikan khutbah di Masjid Sidokabul Panyuran (Wafie Mumtaz)
 
KH. Masduki NS, yang oleh KH. Fathul Huda (Bupati Tuban) menyapanya dengan Abah Masduki, Beliau merupakan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Tuban dan juga menjabat sebagai ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kabupaten Tuban dalam khutbahnya di masjid Sidokabul Panyuran (30/3/2018) menyampaikan rasa prihatinnya terhadap kondisi sebagian umat Islam saat ini yang kehilangan jati dirinya karena mengikuti gaya hidup jahiliyah atau gaya hidup non Islam
 
Kata sang kiyai "Dalam pandangan agama Islam, gaya hidup dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama bergaya hidup Islami, kelompok kedua bergaya hidup Jahili"
 
Lanjutnya "Gaya hidup Islami didasari landasan yang mutlak dan kuat yaitu landasan tauhid, landasannya adalah 'aqoidul iman, itulah gaya hidup orang yang beriman, sedangkan gaya hidup jahili, landasannya bersifat relatif , rapuh, uglak-aglik dan bernuansa syirik"
 
"Dalam kenyataannya memprihatinkan, sebab gaya hidup jahili justru yang mendominasi, fenomena ini persis seperti yang disabdakan Nabi SAW dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Sa'id Al-Khudri yang berbunyi "Sungguh kamu (umat Islam) akan mengikuti umat sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta bahkan sampai ke lubang biawak, kamu akan mengikutinya. Para sahabat bertanya, ya Rasulullah, kaum yang dimaksud itu Yahudi apa Nasrani? Jawab Nabi, Siapa lagi?." Ucapnya sambil mengutip sabda Nabi
 
Sang Kiyai lalu mengatakan "Jadi dalam hal ini maknanya adalah, di akhir zaman, banyak orang yang mengikuti gaya hidup Yahudi dan Nasrani, contohnya makan, kalau ikut nabi, makan sambil duduk, tapi orang-orang sekarang ini niru manganne jaran (meniru cara makannya kuda, red), kalau ada nganten dan sebagainya tidak mau duduk (sambil makan, red), niru mangane ketek (meniru cara makannya monyet)"
 
"Umat Islam kehilangan jati dirinya, jiwanya sibgoh, penampilannya Islam tetapi tasabbuh (mengikuti, red) dengan prilaku Yahudi dan Nasrani, orang seperti ini kehilangan sifat keislamannya, karena mengadopsi, meniru, menyerap gaya hidup orang lain" Ucapnya
 
"Bencana kepribadian ini yang paling besar dampaknya tidak hanya terhadap pribadi tetapi bencana terhadap peradaban manusia, otak manusia, akal manusia, prilaku manusia gonjang-ganjing" Ungkapnya
 
"Padahal Nabi bersabda, "Barang siapa mengukuti suatu kaum, maka dia termasuk kaum tersebut". Walaupun namanya Ahmad atau Masduki, tetapi prilakunya tidak seperti yang diajarkan nabi, maka dia bertasabbuh kepada golongan yang lain" Tuturnya sambil mengutip Sabda Nabi
 
Tentang salah satu budaya yang dirayakan oleh generasi muda Islam yaitu Valentine Day, 
Sang Kiyai memgatakan bahwa, Tasabbuh budaya sudah mengakar di dalam masyarakat kita, mereka mengikuti tampa mengerti apa-apa, salah satu di antaranya adalah merayakan Valentine Day.
 
"Tasabbuh budaya sudah mengakar di dalam masyarakat kita, mereka mengikuti tampa mengerti apa-apa, salah satunya merayakan kegiatan Valentine Day" Tuturnya
 
Lanjutnya  "Valentine Day itu bahasa Inggris, bahasa Indonesia Valentine artinya kasih sayang, kasih sayang dalam Islam itu Rahman-Rahim, sedangkan Valentine Day itu menghormati wong kendat (mati bunuh diri,red), wong kendat kok diperingati?
 
Di akhir khutbah, Sang Kiyai mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Sohihnya nomor hadits 2128 tentang golongan manusia yang tidak masuk surga bahkan tidak akan mencium baunya surga karena mengikuti budaya jahiliyah
 
"Mari kita renung sejenak sabda Nabi SAW yang berbunyi begini, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat. Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” Tuturnya sembari mengutip hadits Nabi di akhir khutbah
 
Iwan Abdul Gani
Shared Post: