'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Kasus Bawa Anjing Ke Masjid. Perdebatannya Bukan Najis atau Tidak, Tetapi Moral dan Etika Beragama
01 Juli 2019 11:02 WIB | dibaca 312
 
Umat Islam Indonesia dihentakkan dengan kasus seorang perempuan memakai sandal dan membawa anjing masuk ke masjid Almunawaroh Sentul City sambil marah-marah
 
Tidak menunggu lama, pihak kepolisian yang menangani kasus tersebut langsung berkesimpulan bahwa kemungkinan si perempuan itu mengalami gangguan kejiawaan yang diistilahkan dengan depresi.
 
Dalam perkara ini saya katakan polisi hebat, karena dengan cepat bisa mengetahui kondisi kejiwaan sesorang tanpa repot-repot mendatangi ahli kejiawaan.  
 
Mulai banyak orang yang mencari apologi terselubung untuk tindakan anjing masuk masjid dengan berdalil bahwa di masa Rasulullah anjing bebas masuk masjid.
 
Ini jelas pemerkosaan dalil. Orang bukan permasalahkan najis atau tidak yang jadi khilafiyyah tapi masalah sensitivitas etika dan masalah norma.
 
Kenapa tidak Anda bawakan dalil bahwa Rasulullah shalat pakai sandal di masjid Nabawi dan memerintahkan sahabat untuk shalat pakai sandal di dalam masjid?
 
Lalu cobalah Anda pergi ke masjid terdekat pakai sandal. Kalau ada yang marah bawakan padanya hadits ini:
 
خالِفُوا اليهودَ فإنَّهم لا يُصَلُّون في نِعالِهم ولا خِفافِهم
 
"Selisihilah Yahudi, karena mereka tidak shalat dengan sandal dan sepatu mereka."(HR. Abu Daud).
 
Apakah tepat pendalilan itu sekarang?!!
 
Sekali lagi ini bukan masalah najis atau tidaknya tapi norma dan nilai yang bisa berubah dengan berubahnya zaman.
 
Oleh karena itu pentingnya mengkaji fiqhul waqi'. Di mana dalil harus ditempatkan pada tempatnya dan juga menjaga sensitifitas ummat.
 
Mungkin nanti ada yang beralasan, "saya hanya menyampaikan hukum anjing masuk masjid." Tapi apakah Anda buta bahwa sekarang orang sedang membicarakan kasus tertentu? Makanya jadi orang jangan lugu dan jumud.
 
Gunakan akal untuk memahami nash, jangan gunakan nash untuk pembenaran.
 
Iwan Abdul Ghani. Anak pulau terluar (Pantar, Alor, NTT) yang sedang belajar memahami Islam
 
Dikutip dari berbagai sumber
Shared Post: