'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Kajian Ahad Pagi Darussalam di Mata Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur
28 Januari 2018 19:58 WIB | dibaca 871
Halam Pondok Modern Muhammadiyah Paciran Lamongan
 
Menikmati secangkir kopi buatan santriwati Pondok Modern Paciran Lamongan di bawa naungan pohon trembesi yang tampak kokoh di tengah-tengah halaman pondok sambil mencari ide untuk menulis berita tentang Olimpiade Ahmad Dahlan 2018 se-ex Karesidenan Bojonegoro oleh Majelis Dikdasmen Muhammadiya Lamongan, Ahad (28/01/2018)
 
Tiba-tiba mata ini tertuju pada sosok yang jadi ayah bagi alumni pendidkan kader mubaligh Muhammadiyah Jawa Timur angkatan 2007, beliau juga merupakan motifator bagi saya dalam menulis.  Adalah Ustadz. Najib Hamid pimpinan perusahaan Majalah Matan, jurnalis senior pencetus www.pwmu.co, yang berhasil melahirkan jurnails Muhammadyah berbakat ada yang sekarang mejadi pemred dan editor.
Ini momen yang sayang untuk dilewati.
 
Sayapun bergegas dari tempat untuk mendekati dan menyapa, dipersilahkan duduk oleh beliau, sementara tampak di jajaran kursi ada beberapa ustadz dan pengasuh pondok moderen. Beliau menanyakan kabar dan perkembangan menulis nerita "Alahamdulillah atas arahan ustadz saya diberi kepercayaan mengelolal website www.tuban.aisyiyah.or.id disamping mengirim tulisan ke pwmu.co serta jadi mengirim berita berupa video ke pwmu.tv (jawab saya)
Obrolan ala aktifis Muhammadiyah senior seperti mereka sudah tentu yang dibahas adalah problematika umat Islam, saya memilih jadi musatmi' (pendengar, istilah anak pondok). Obrolanpun merambat ke masalah memanfaatkan media online seperti website sambil menepuk paha saya dan menyatakan "pwmu.co itu skalanya sudah mendunia, ditangani oleh orang-orang berpengalaman, contohnya Pak Roy, itu editor senior Jawapos dan pernah menjabat sebagai pimpinan redaksi, Pak Sugeng juga wartawan senior di Sirabaya post."
"Tulisan saya sudah sekitar 17.000 yang membaca. Coba antum bayangkan jika itu pamflet atau koran. Berapa biaya yang harus dikeluarkan? Belum tentu laku semua. Ada juga yang beli namun hanya dijadikan hiasan meja tamu. Muhammadiyah adakan acara mengumpulkan masa skala lokal berjumlah lima ratus saja susah".(ucapnya)
Beliau melanjutkan perkataanya. "Jika ingin menulis usahakan isinya berkaitan dengan human interest (potret kehidupan sosial yang menimbulkan simpati dari orang lain. red). 
Ditengah-tengah obrolan, tiba-tiba beliau menyinggung kajian ahad pagi di Darussalam Tuban. Dalam hati, "wah ini menarik". Beliau mengatakan, "Saya sering ke Darussalam. Kajian Ahad pagi di Darussalam itu potensi besar, menarik untuk dipublikasikan, satu kali pertemuan saja, sudah jadi beberapa judul berita".
"Keuntungan menulis berita itu ada empat. Pertama, dia terbiasa untuk terus menulis. Kedua, untuk lembaga, konstitusi, atau kelompok pasti akan terbawa (viral.red). Ketiga, untuk medianya (cetak maupun online.red) akan ikut besar. Keempat, memberikan pencerahan kepada masyarakat". (ucapnya)
Pesan beliau. "Jika Anda menulis agar media itu bertahan lama maka jauhi menjelek-jelekkan atau mencaci orang lain. Oleh karena itu, pwmu.co saya tidak mau ada seperti itu".
Terimakasih ustadz atas pencerahannya. Bekal yang sangat berharga bagi saya yang tergolong pemain baru dalam dunia jurnalis. Semoga Allah memberkati ilmunya.
 
Iwan Abdul Gani.
Shared Post: