'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Islam Pernah Menguasai India Dan Memberi Rasa Aman Pada Semua Penduduknya, Kini Hendak Dilenyapkan. Oleh Iwan Andul Gani
01 Maret 2020 09:05 WIB | dibaca 329
 
Darah saudara Muslim kembali tertumpah. Kali ini di Ashok Nagar, Delhi, India. Dua puluh nyawa melayang menjadi korban. 
 
Peristiwa bermula sejak Perdana Menteri Narendra Modi mengeluarkan Undang-Undang Kewarganegaraan (CAA). 
 
Undang-undang tersebut memberikan kewarganegaraan kepada pengungsi dari semua agama di Asia Selatan, kecuali Muslim. Undang-undang ini kemudian memicu reaksi nasional.
 
 
Ratusan terluka. Penjarahan dan kekerasan masih terus berlangsung sejak Ahad hingga Rabu (26/2). Korban rata-rata mengalami luka tembak hingga luka bakar akibat cairan asam, luka karena pemukulan, dan lemparan batu. 
 
Tak hanya itu, dikabarkan juga ada sweeping buka celana bagi laki-laki untuk membuktikan kalau mereka tidak dikhitan.
 
Aksi damai yang digelar berbuntut ricuh setelah sekelompok massa Hindu yang jumlahnya sekitar 500-an orang menyerang saudara-saudara Muslim yang tengah menyuarakan keberatannya atas UU yang sangat diskriminatif dan tak adil itu. 
 
 
Sekalipun korban berjatuhan, namun massa yang brutal belum puas. Malam harinya, masjid lain yang lebih kecil dan toko-toko Muslim di pasar lokal dibakar oleh kelompok tersebut.
 
Reuters melaporkan, kerusuhan terus menyebar ke barat laut Delhi, termasuk Jafrabad, Babarpur, Brahmpuri, Taman Gorakh, Maujpur, Bhajanpura, Kabir Nagar, Chand Bagh, Gokulpuri, Karawal Nagar, Khajuri Khas, dan Kardampuri. 
 
Pengerahan pasukan besar-besaran dan paramiliter terlihat di beberapa daerah yang mengalami kerusuhan paling parah.
 
Islam adalah agama terbesar kedua di India. Sensus penduduk yang dilakukan pada 2011 menyebutkan, jumlah Muslim sebanyak 14,2% dari total penduduk atau sekitar 172 juta jiwa.
 
Hindu sebagai mayoritas sebesar 79,62%. Sisanya, Protestan, Katolik, Buddha, Jainisme, Sikh, dan Yahudi.
 
Umat Islam di India menyebar di negara-negara bagian Uttar Pradesh, Bengali Barat, Bihar, Kerala, Assam, Andra Pradesh, Maharashtra, Tamil Nadu, Gujarat, Karnataka, dan Madya Pradesh.
 
Catatan sejarah menyebutkan bahwa, Islam telah sampai di India sejak masa Khalifah Umar ibn Khattab dengan menaklukan wilayah Makran di Baluchistan.
 
Lalu Daulah Umayyah mengirim pasukan yang dipimpin Muhammad bin Qasim dan berhasil menguasai wilayah Sind pada 871 M.
 
Kemudian muncullah beberapa penguasa Muslim seperti  Mahmud Gaznawi, Khalji, Tugluq, dan Dinasty Lody yang didirikan oleh Bahlul Khan Lody.
 
Sampai akhirnya datanglah Sultan Muhammad Babur dari Asia Tengah yang mendirikan Daulah Mughal. Daulah inilah yang meninggalkan jejak peradaban Islam yang luar biasa di India yaitu bangunan Taj Mahal dan Benteng Merah.
 
Tak hanya bangunan fisik seperti Taj Mahal dan Benteng Merah yang ditinggalkannya. Namun juga pranata yang adil dan harmonisasi kehidupan beragama antara Muslim dan Hindu.
 
Para Sultan Mughal yang tercatat dengan tinta emas di antaranya Sultan Akbar (1556-1605) dan Sultan Jahangir (1605-1627).
 
Keberhasilan Daulah Mughal juga diakui oleh sejarawan Hindu India Jadunath Sarkar, seperti yang ditulis dalam bukunya “A History of Jaipur”.
 
“Pada periode Sultan Akbar berkuasa, proses interaksi dan pertukaran pikiran antara bangsawan Hindu dan Muslim di lingkungan kerajaan pada akhirnya melahirkan akulturasi dua kebudayaan.”
 
Pengakuan lain yang mengungkapkan pertautan budaya antara Muslim dan Hindu dalam manuskrip berbahasa Sansekerta juga diungkap dalam buku “Culture of Encounters: Sanskrit at the Mughal Court” yang ditulis Audrey Truschke, seorang sarjana terkemuka di bidang sejarah budaya sekaligus intelektual Asia Selatan dari Universitas Stanford.
 
Sekalipun perbedaan telah ada sebelumnya, namun menurut Truschke, politik pecah belah sebenarnya baru dikembangkan selama periode kolonial Inggris antara tahun 1757-1947. 
 
Banyak konflik sektarian agama di India dibenturkan dengan masalah ideologis. Dipersepsikan kehadiran penguasa Muslim sebelumnya selalu bermusuhan secara bahasa, agama dan budaya. Mereka tidak melacak secara akurat sejarah kedua agama.
 
"Inggris mengambil keuntungan dari perpecahan Hindu dan Muslim, dan menggambarkan diri mereka sebagai pihak netral yang bisa menjaga konflik antara agama-agama di India. Sebagaimana yang dikembangkan kolonialisme di negara jajahan," tulisnya.
 
Padahal, kalau saja mereka mau belajar, Islam pernah meninggalkan jejak toleransi dan pranata yang adil di sana. Yang kini mau dihilangkan bekasnya.
Shared Post: