'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Diharapkan Ada Simbiosis Mutualisme Dalam Dakwah Ramadhan Santriwati Persis Bangil di 'Aisyiyah Palang
16 Mei 2018 18:15 WIB | dibaca 800
Santriwati pesantren Persis Bangil (iwan)
 
Pimpinan Cabang ‘Asiyiyah (PCA) Palang dan Bancar Pada Rabu (16/5/2018)  kedatangan tamu dari pesantern Persatuan Islam (Persis) Bangil. Mereka adalah para santriwati yang sedang menjalankan paraktek dakwah Ramadhan di kabupaten Tuban
 
Kerja sama dalam dakwah seperti ini bukan hal yang baru bagi Muhammadiya, 'Asiyiyah dan Persis. Dua ormas Islam ini bisa diistilahkan matahari kembar, hal ini dikarenakan mempunyai logo yang sama-sama matahari,yang membedakan adalah tulisan yang melingkari matahari tersebut
 
Bertempat di perguruan Muhammadiyah Cendoro acara penyambutan ini dilaksanakan secara sederhana penuh keakraban
 
Lilik Muyasaro selaku pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Palang dalam sambutannya menyampaikan rasa terimkasih atas dipilihnya ‘Aisyiyah palang sebagai salah satu tuan rumah kegiatan dakwah ini
 
“Kami berterimakasih atas dipilihnya ‘Aisyiyah Cabang Palang menjadi tuan rumah kegiatan dakwah ramadhan untuk anak-anak dari Persis (Persatuan Islam, red) Bangil. Ini suatu kebahagiaan dan kebanggan bagi kami, semoga kita saling mendapatkan berkah dan saling mendapatkan hikmah”ucap Lilik
 
Tambahnya “Tak lupa kami sampaikan rasa terima kasih juga kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah Palang yang selalu memberikan support terhadap kegiatan-kegiatan ‘Asiyiyah, karena sebagai perempuan kami menyadari bahwa kami punya keterbasan”
 
Acara penyambutan (iwan)
 
Dia juga berpesan kepada anak-anak muda untuk terus berkarya sesuai kemampuan yang dimiliki
 
“Kami pesankan kepada anak muda agar berkaryalah yang lebih sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, jangan pernah ragu dalam berbuat yang terbaik bagi umat” pesannya
 
“Untuk ibu-ibu ‘Asiyiyah saya berharap jangan jadikan kekurangan atau keterbasan itu menjadi penghalang dakwah, tidak boleh bagi kita untuk mejadikan alasan ketidak mampuan alasan tidak produktif dalam berbuat “ harapanya
 
Lilik Muyasaro meminta kepada ibu-ibu ‘Aisyiyah agar menjadikan anak-anak ini seperti anak kandungnya sendiri begitu juga sebaliknya
 
“Kepada pimpinan ranting ‘Aisyiyah yang ditempati, agar menjadikan anak-anak ini seperti anaknya sendiri, begitu juga anak-anak, anggaplah ibu-ibu ini seperti ibu kandungnya sendiri” harap dia
 
Tambahnya “Jika  ada kelebihan dan kekurang semoga hal tersebut menjadi pelajaran bersama untuk menjadi bekal ke depan yang lebih baik”
 
Irsyad Ridho selaku ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Palang juga menyatakan turut berbahagi atas kehadiran santriwati dari pesantren Persis Bangil
 
“Kami atas nama pimpinan cabang Muhammadiyah Palang, dengan kehadiran santriwati dari pondok pesantren Persis bangil ini sangat ikut berbangga, sangat ikut berbahagia”ucapnya
 
Lanjut dia “Dengan kehadiran para santriwati ini, setidaknya anak-anak yang ada di Palang ini bisa menimba ilmu, bisa mendapatkan tambahan ilmu dari begitu juga bagi para santriwati yang ditempatkan di sini insya Allah akan mendapatkan tambahan ilmu bermasyarakat
 
Pengurus Muhammadiyah cabang Palang, pengirus pesantren Persis Bangil dan redaktur tuban.aisyiyah.or.id (iwan)
 
Ketua PCM Palang berharap ada simbiosis mutualisme dalam kegiatan dakwah Ramadhan ini
 
“Dengan harapan nantinya para santriwati ini setelah kurang lebih sepuluh hari ditempatkan di Palang, setidaknya ada simbiosis mutualisme yaitu saling memberi manfaat baik pimpinan cabang ataupun pimpinan ranting serta bagi santriwati-santriwati tersebut” harpnya
 
Dia menambahkan “Semoga anak-anak yang nantiinya mengikuti kegiatan ini ataupun santriwatinya sendiri kedepannya akan menjadi kader yang militan, kader yang kuat akidahnya, kuat ibadahnya dan kuat akhlaknya”
 
Sementara itu, salah satu pembimbing dari Persis bernama Triyono Salim mengatakan bahwa program dakwah adalah sarana memperkenalkan para santri kepada masyarakat
 
“Bahwa program dakwah ini adalah bagaimana mengenalkan para santri ke masyarakat, karena pada akhirnya nanti mereka akan terjun di masyarakat” ucapnya
 
Dia menambahkan “Setiap mukmin adalah da’i atau da’iyah, mereka harus menjadi penggerak atau istilahnya muharik-muharikat di masyarakat”
 
“Ini tentunya perlu pembelajaran, jika di perguruan tinggi ada istilah KKN atau PKL, maka sejak awal mereka kita kenalkan untuk melihat masyarakat secara real” kata Triyono
 
“Tentunya mereka juga sudah memiliki bekal dengan kapasitas ilmu yang dimiliki, maka mereka itu punya kewajiban untuk memikirkan masyarakat” tuturnya
 
Iwan Abdul Gani
Shared Post: